Pages

Sabtu, 09 Juli 2011

A Tree Grows in Brooklyn

Untuk berlari dari rutinitas yang menjemukan, aku dan Bung menghabiskan sore di sebuah toko buku di daerah Dieng, Kota Malang. Selagi Bung mencari-cari jurnal kesayangannya yang sangat membosankan itu, aku beranjak ke deretan novel-novel yang menggoda. Setelah beberapa menit mengais dan sedikit merengek kepada Bung, akhirnya aku dapat membawa pulang novel setebal 664 halaman ini.
Seperti kata pengantar yang menyambut pembaca di awal halaman buku ini, benar adanya jika tidak ada hal yang terlalu berlebihan dalam cerita di buku ini. Tidak ada yang mati tercekik di sana. Hanya saja, banyak kalimat dalam buku tersebut beraroma satir yang cukup menyegarkan selera penikmat novel genre semacam ini. Disajikan dengan tema perjuangan hidup para generasi pertama gelombang imigran yang mengadu nasib di New York, dengan latar tempat permukiman kelas bawah di Kota Brooklyn, yaitu Williamsburg yang sesak, dan latar waktu 1920an saat krisis ekonomi melanda.

Novel karya Betty Smith dengan genre kesayangan saya ini membangkitan ingatan terhadap karya-karya Little House on The Prairie dari Laura Ingalls Wilder. Babak hidup seorang gadis kecil, disajikan dengan isu komplementer yang tidak kalah menariknya. Juga diksi yang konsisten dengan sudut pandang yang digunakan. Tentang keluarga, tentang tumbuh dewasa, tentang misteri hati anak manusia, tentang jatuh cinta, tentang rumah tangga, dan tentang keindahan-keindahan yang sangat orisinil dan kritis dari sudut pandang seorang gadis kecil.

Judul buku ini, yaitu A Tree Grows In Brooklyn, secara eksplisit menggambarkan kisah sebatang pohon aneh – Pohon Ailanthus – yang bertahan hidup di tengah-tengah lahan yang tertutup perkerasan semen. Sedangkan secara implisit mengisahkan babak hidup seorang gadis kecil, Francie Nolan, yang dilahirkan dengan tampang yang biasa-biasa saja dan dibesarkan dengan kondisi perekonomian keluarga yang buruk. Namun, sama halnya dengan si pohon aneh, Francie tetap bertahan untuk hidup dan tumbuh dengan segala keajaiban serta keunikannya sendiri.

Kenyataan bahwa ayah Francie adalah seorang pelayan dan penyanyi bar yang pemabuk, adalah salah satu gejala ketidakmakmuran sosial ekonomi di Brooklyn saat itu. Pendidikan pas-pasan yang mampu dinikmati oleh kedua orang tua Francie, segerombolan anak sekolah yang membagi kesibukan belajar dan bermain dengan memunguti barang-barang bekas di sepanjang jalan, maraknya sektor matapencaharian non formal, serta sekolah gratis yang masih diskriminatif, juga adalah realita pahit lainnya yang harus membayangi si kurus Francie.

Memang tidak selalu ada roti di meja. Namun, selalu ada kehangatan cinta di rumah Francie. Seorang ibu yang masih bisa memasak makan malam unik dari roti basi setelah seharian penuh bekerja membersihkan lantai beberapa tingkat rumah susun, tentunya bukanlah perempuan tangung-tanggung. Terlebih lagi, ibu itu masih sempat membacakan kisah-kisah yang indah sebelum anaknya terlelap dan juga memaksakan diri untuk bekerja lebih keras agar anak-anaknya bisa mengikuti les piano.

Selain ibu yang luar biasa, kebahagiaan Francie juga dilengkapi oleh adik laki-lakinya, seorang bibinya yang sering membawakan majalah bekas saat berkunjung, seorang bibi lainnya yang menawan dan punya banyak pengalaman dengan laki-laki, serta seorang nenek yang penyayang. Dan terlepas dari seorang pemabuk, ayah Francie adalah laki-laki tampan yang suka bernyanyi untuk Francie.

Kisah menarik ini ditutup dengan kepindahan keluarga Francie dari permukiman padat tersebut karena ibunya menikahi seorang laki-laki yang juga berlatarbelakang imigran -- namun berasal dari kelas sosial yang lebih aman -- setelah ayahnya yang pemabuk meninggal dunia. Saat itu, Francie telah menginjak usia remaja dan segera menikmati bangku pendidikan tinggi, sesuai dengan apa yang selalu diimpikan oleh ibunya.

Seorang gadis kecil pernah tinggal di rumah susun itu. Walaupun dia telah pergi ke tempat lain, namun semangatnya masih menghangatkan permukiman dingin yang seolah tiada pengharapan. Seorang gadis kecil, walaupun dia telah beranjak menjadi perempuan dewasa, namun keindahan imaji dan keajaiban-keajaiban kecil itu, rasanya tak akan pernah hilang dan mati.

4 komentar:

  1. Jadi pengen baca weend... kayaknya tangguh banget si francie...
    bisa jadi penyemangat hidup buat orang2 yang bosan hidup dan menghamburkan kebahagiaan yang sebenarnya nggak dimiliki oleh banyak orang,,,,,

    BalasHapus
  2. wendy suka yang temanya perjuangan hidup gitu ya?

    BalasHapus
  3. Lebih tepatnya kalo perjuangan seorang wanita mas... eh yang pemaknaannya positif tuh sekarang wanita apa perempuan sih ya??

    BalasHapus
  4. aku pilih perempuan,, hohoho.. kiky lg magang ya??

    BalasHapus