Pages

Minggu, 17 Juli 2011

Iron Jawed Angel


Film berlatar belakang tahun 1912 ini berkisah tentang perjuangan kaum perempuan untuk memperoleh hak pilih di Amerika Serikat. Tidak banyak pengantar yang dapat ditulis sebagai resensi dari film ini karena konten dialog serta alur cerita pada film yang sudah cukup gamblang untuk mengabarkan isu yang sedang diperjuangkan saat itu. Film ini diawali oleh ledakan semangat perjuangan Alice Paul dan saudari seperjuangannya, Lucy Burns. Mereka kemudian bertemu dengan Anna Howard Showel yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Emansipasi Wanita Amerika Nasional (National American Woman Suffarace Assosiation / NAWSA). Alice dan Lucy berkeinginan untuk mendapatkan dukungan asosiasi tersebut dalam mengamandemen UU mengenai hak pilih perempuan, di tengah arus anggapan mengenai ketidakpantasan kaum perempuan berkiprah dalam politik yang terjadi di hampir seluruh  negara bagian Amerika Serikat pada saat itu.

Berbagai pandangan miring mengintai perjuangan untuk mendapatkan hak pilih bagi perempuan, antaranya adalah tuduhan bahwa perempuan tidak pantas mendapatkan hak pilih karena kodratnya sebagai makhluk kedua yang tidak lebih pintar dari laki-laki dan cenderung emosional, sehingga seolah-olah sangat berbahaya jika diberi hak pilih. Namun, tujuan yang ingin dicapai oleh Alice Paul dan saudari-saudari seperjuangannya sangatlah jelas yaitu mendapatkan kembali hak politik kepada perempuan Amerika Serikat untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum. Namun yang pasti adalah mereka harus mendapatkan hak tersebut karena mereka adalah warganegara yang mempunyai hak yang sama, baik itu laki-laki maupun perempuan. Dan mengapa begitu mendesak? Sebab hak pilih yang dimiliki oleh seseorang akan memberikan akses untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan pemerintah. Setiap suara yang diberikan ikut menentukan masa depan sebuah masyarakat yang dipimpin oleh pihak yang dipilih.

Selanjutnya,  Alice dan Lucy melakukan perekrutan simpatisan untuk ikut bersama mereka melancarkan aksi. Strategi, waktu, dan tempat yang tepat untuk melakukan hal ini dipikirkan secara matang untuk menarik perhatian media. Strategi yang pertama adalah pelaksanaan pawai yang bertepatan dengan pelantikan Presiden Woodrow Wilson. Dengan berpakaian ala dewi-dewi Yunani, parade ini berhasil menarik massa lebih banyak dibandingkan dengan pelantikan Presiden AS itu sendiri. Aksi kedua yang digunakan adalah dengan membuat pagar betis di depan Gedung Putih. Spanduk yang dipergunakan dalam demo tersebut adalah spanduk bertuliskan pidato-pidato yang dahulu pernah diucapkan oleh presiden-presiden AS mengenai persamaan hak. Demo ini tidak bertentangan dengan hukum karena dilakukan secara damai dan spanduk berisi kalimat-kalimat dari penggalan pidato para pemimpin AS. Di satu sisi, aksi ini telah mengundang perhatian media dan pemberitaan terhadap aksi berpengaruh terhadap pencitraan AS di luar negeri, yaitu dimana AS adalah negara yang mencitrakan dirinya sebagai negara demokratis dan negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Namun, perjuangan ini terhambat saat meletusnya perang dunia yang juga melibatkan Amerika Serikat. Isu perjuangan untuk mendapatkan hak pilih yang sedang mereka gembar-gemborkan dengan cepat mengganggu perhatian masyarakat sekitarnya yang lebih bersimpati terhadap perang dunia. Dampaknya, di seperempat bagian terkahir film ini diceritakan tentang  penangkapan terhadap Alice Paul dan saudari-saudarinya yang dianggap mengganggu ketertiban. Namun, penangkapan ini justru semakin memperkuat posisi para pejuang perempuan ini dan meningkatkan isu kemarjinalan perempuan dalam berpolitik. Tekanan rakyat menyebabkan Alice dan saudari seperjuangannya dapat keluar dari penjara dan mendorong Presiden Wilson untuk berpidato mengenai hak perempuan di depan kongres. Akhirnya kongres menyepakati perubahan amandemen dalam konstitusi dan memberikan hak pilih bagi warga negara perempuan untuk memilih.

Hak pilih yang diperjuangkan oleh Alice Paul dan saudari-saudari seperjuangannya hanyalah salah satu perjuangan melawan ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki. Penekanan yang tidak kalah pentingnya yang mampu dijadikan sebagai preseden dalam film ini adalah semangat untuk berjuang bersama dalam lingkar sisterhood. Pada film ini dapat disaksikan bagaimana perempuan-perempuan muda merapatkan barisan dan kemudian siap dengan halangan apa pun untuk berjuang membebaskan saudari-saudari mereka di seluruh dunia. Mereka menyelaraskan gagasan dan rencana bersama, melancarkan aksi mogok makan bersama, menangis dan tertawa bersama, hingga meraih hasil yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Istilah sisterhood yang menafasi perjuangan ini, merupakan sebuah term dalam feminisme yang digunakan untuk mengekspresikan lingkar atau jejaring yang menyatukan para perempuan yang tidak sedarah melainkan lewat solidaritas perjuangan yang tunggal.

Satu hal yang menarik dari cerita ini adalah sisi personal dari para pejuang perempuan tersebut. Bukanlah hal yang mudah untuk memantapkan hati dan meluruskan pandangan pada perjuangan yang tunggal, sebuah perjuangan yang tidak terganggu oleh rasa sepi dan hati yang selalu saja menginginkan pertautan dengan keintiman hubungan personal. Alice Paul sendiri, dalam film ini diceritakan mesti mengubur rasa ketertarikannya dengan seorang karikaturnis Washington Post, Ben Weissman yang kala itu berniat untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengannya. Juga, gelisah yang dialami oleh Lucy Burns tatkala dirinya dihantui oleh usia di mana seharusnya dia sudah menikah. Namun, semua itu dengan sendirinya tertepiskan oleh fokus terhadap perwujudan cita-cita menuju kesetaraan – yang cukup mengusik kedirian saya dan lantas membuat saya malu terhadap diri saya sendiri, sebab banyak kali saya menelantarkan agenda Komunitas Aku Perempuan! karena harus mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah sosok teladan Alice Paul. Kenyataan bahwa dia dilahirkan di keluarga yang mapan secara ekonomi, tentunya tidak mudah baginya untuk terjun dan melakukan bunuh diri kelas, dari rumah besar dengan beranda, telepon, dan para pembantu rumah tangga di area pertanian Paulsade menuju kantor sekretariat yang sempit, jalanan untuk melancarkan aksi, hingga aksi mogok makan saat berada di penjara perempuan. Diterjemahkan bebas dari laman paulalice.org, kualitas diri Alice Paul adalah kedisiplinan dan budaya kerja yang terorganisir. Alice Paul memiliki kapasitas untuk merancang kerangka kerja beserta estimasi jumlah orang yang dibutuhkan untuk menyelesaiakan pekerjaan tersebut dalam satuan waktu tertentu. Selain itu, Alice Paul juga dikenal sebagai seseorang yang kerap menuntut orang lain untuk mengerjakan hal sulit yang belum pernah dikerjakan oleh orang tersebut, tanpa kompromi. Namun, perilakunya tersebut jarang menuai protes karena dia pun memberlakukan hal yang sama pada dirinya sendiri dan selalu berusaha keras untuk mendidik dirinya sendiri.

Kendati demikian, hal yang saya harapkan dari perjuangan mereka ternyata tidak nampak dan membuat hati saya kurang lega (atau memang belum zamannya), yaitu terakomodirnya isu perempuan kulit berwarna di Amerika Serikat (baca: kulit hitam). Pada bagian awal film, terdapat adegan di mana seorang perwakilan asosiasi perempuan kulit hitam menemui Alice Paul untuk menagih keikutsertaan perempuan kulit hitam pada pawai. Namun, singkat kata Alice Paul tidak mengabulkannya dengan alasan saat itu bukanlah saat yang tepat.

Resensi ini ditulis untuk Acara Bedah Film Iron Jawed Angels yang diadakan oleh Komunitas Aku Perempuan dan LPM Perspektif FISIP Universitas Brawijaya. Salam kesetaraan!


 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar