Catatan harian tentang petualangan hidup di tempat-tempat yang jauh dan asing adalah cerita yang selalu menawan. Salah satunya adalah Out of Africa, film berlatar tempat di Kenya pada tahun 1913-1941 yang diangkat dari kisah hidup Karen Blixen. Film yang menyabet beberapa penghargaan ini disutradarai oleh Sydney Pollack dan dibintangi oleh Meryl Streep (sebagai Karen Blixen) serta Robert Redford (sebagai Denys Finch Hatton).
Kisah ini diawali oleh perjalanan Karen menuju Kenya, di mana dia dan calon suaminya yang bergelar Baron, Bror, berencana untuk menetap dan membuka diary farm. Sebagai catatan, pernikahan Karen dan Bror dalam kisah ini digambarkan seperti kawin kontrak, di mana Karen bisa mendapatkan gelar Baroness dan Bror bisa mendapatkan uang milik keluarga Karen untuk memulai sebuah bisnis di Africa. Tanpa seizin Karen, Bror mengubah rencana bisnis dari diary farm menjadi perkebunan kopi. Konflik dalam rumah tangga mereka kemudian diperparah oleh Bror yang lebih memilih untuk pergi berburu daripada tinggal di rumah dan mengurus perkebunan kopi mereka. Perang pun meletus sehingga Bror semakin jauh dari rumah. Saat perang usai, Karen mendapati dirinya mengidap sifilis yang ditularkan oleh suaminya.
Tahun berganti, setelah Karen kembali ke rumah ibunya di Denmark untuk menjalani pengobatan. Ketika dia kembali ke Africa, hubungannya dengan Bror semakin menjauh dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Pada masa-masa itu, datanglah Finch Hatton ke dalam hati dan hidup Karen. Finch Hatton adalah seorang bohemian berkebangsaan Inggris yang berprofesi sebagai pemburu komersil. Finch Hatton datang di saat yang tepat. Ketika Karen merasa sangat kesepian, dia datang dengan menawarkan petualangan-petualangan di alam Africa yang liar.
Banyak hal menawan dalam film ini. Hal-hal yang selalu menarik mengenai keindahan yang digenapi oleh misteri-misterinya, yaitu hamparan bumi yang menenangkan sekaligus liar, rasa ingin memiliki, orang-orang yang datang dan pergi dalam babak hidup kita, ketenangan yang menjelma menjadi sepi, tempat-tempat nan jauh yang selalu kita rindukan namun tak ingin rasanya kita kembali ke sana lagi, kesenangan untuk menuliskan kenangan yang bahkan tak ingin kita ingat kembali, kearifan peradaban tua yang asing namun rasanya telah kita kenal sejak lama, dan juga tentunya misteri hati anak manusia.
Africa yang dimaksud oleh Karen adalah Kenya yang memiliki bukit-bukit hijau yang tenang. Dalam film digambarkan dalam adegan di mana Karen pergi berburu dan menikmati lansekap tanpa sadar seekor singa betina telah mendekatinya. Pada adegan yang lain, ditampilkan bird eye view hamparan bumi Kenya ketika Finch Hatton mengajak Karen untuk mencoba pesawat barunya, yang oleh Karen disebut sebagai pengalaman melihat dunia dengan mata Tuhan. Sebuah alam liar yang juga membuat Finch Hatton tergila-gila dan akhirnya tewas dalam kecelakaan pesawat yang dia kendarai sendiri.
Sedangkan misteri kecil dalam cerita ini, yang menurut saya pada akhirnya menjadikan film ini hanyalah sebagai kisah cinta biasa, yaitu relasi antara Karen dan Finch Hatton. Sisi menarik dari pribadi Karen Blixen adalah semangat, kehangatan, serta kemauan keras, termasuk kemauan keras untuk memiliki apa pun yang dia inginkan. Pada film ini diceritakan bahwa Karen seringkali menggunakan kata ‘my’ yang berarti miliknya, misalnya my Kikuyu, my farm, dan my Africa. Isu tersebut lantas mewarnai hubungan tanpa status-nya dengan Finch Hatton, di mana rasa ingin memilikinya bertolak belakang dengan diri liar Finch Hatton yang haus akan petualangan serta kebebasan.
Terdapat 2 (dua) obrolan yang intim antara Karen dan Finch Hatton, yang menurut saya cukup menarik, yaitu ketika Karen dan Finch Hatton berdansa di pesta tahun baru dan ketika mereka berdua sedang berpiknik. Pada obrolan saat pesta dansa tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara Karen dan Finch Hatton mengenai bagaimana mereka memandang hidup. Karen menceritakan kepada Finch Hatton tentang sekolah yang dia dirikan untuk anak-anak Suku Kikuyu yang berada di sekitar tanah pertaniannya agar anak-anak suku tersebut tumbuh menjadi orang yang terpelajar. Finch Hatton berpendapat bahwa hal tersebut tidak perlu dilakukan karena sesungguhnya suku tersebut tidak bodoh dan tidak hidup dengan cara yang sama seperti para kulit putih. Namun, Karen bersikeras menginginkan anak-anak Kikuyu-nya untuk tetap belajar membaca. Hal tersebut kemudian direspon oleh Finch Hatton dalam bentuk peringatan, bahwa kita bukanlah pemilik apa pun dalam hidup dan bahwa kita hanya numpang lewat saja dalam hidup ini.
Obrolan kedua yang terjadi saat berpiknik, memberi tarikkan garis batas yang tegas mengenai cara Finch Hatton memaknai sebuah hubungan. Karen menginginkan sebuah pernikahan untuk memberi ikatan bagi hubungan mereka berdua, sedangkan Finch Hatton tidak percaya pada pernikahan. Dia memberi pernyataan yang jelas bahwa selembar surat pernikahan tak akan membuat dirinya menjadi lebih mencintai Karen. Lebih dari itu, Finch Hatton juga menerangkan bahwa dia tidak ingin hidup dengan cara orang lain kemudian dia memberi pengertian kepada Karen bahwa Karen punya pilihan dan Karen pun tak perlu menjalani kehidupan dengan cara orang lain.
Bagi saya, misteri terbesar adalah diri seorang Finch Hatton, atau lebih tepatnya misteri pada hati seorang laki-laki semacam Finch Hatton. Seorang diri yang tidak punya tuan maupun budak. Dia punya kehendak bebas dan tidak pernah ragu untuk menjalani kehidupan dengan definisinya sendiri. Di satu sisi, dia bukanlah seorang perayu, namun entah mengapa selalu saja ada seseorang yang merasa dimabukkan olehnya. Pertanyaan besar yang muncul adalah seandainya dia tidak mati muda, apakah suatu saat dia akan menukar kebebasannya dengan sebuah komitmen.
Bagi para penikmat roman happy ending, kisah ini tentunya akan mengecewakan mereka. Setelah Karen memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Finch Hatton dan kebakaran menimpa perkebunan kopinya, Karen mengalami kebangkrutan lalu memutuskan untuk kembali ke Denmark. Berita buruk baginya datang lagi setelah Finch Hatton muda yang bersemangat seolah akan hidup seribu tahun, meninggal dunia saat kecelakaan pesawat di Tsavo. Malam terakhir yang sempat mereka nikmati, dihabiskan untuk berdansa dan sedikit berbincang tentang hari-hari ketika pertama kali mereka berjumpa. Di malam itu, Finch Hatton mengaku pada Karen, bahwa Karen adalah orang yang mampu mengusik kedirian dan kesendirian seorang Finch Hatton.
Karen meninggalkan Africa dengan mengemis sebidang tanah kepada gubernur jenderal setempat untuk memberikan tempat hidup bagi Suku Kikuyu yang dulu bekerja di perkebunan kopinya yang telah di sita oleh bank. Film ini ditutup oleh adegan, di mana Karen pergi dengan kereta api, seperti halnya saat kedatangannya di awal film.
Menyedihkan,menarik,inilah suka duka kehidupan.
BalasHapus