Jika ada hal yang dapat menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang, bisa jadi hal tersebut adalah sebuah karakter. Dalam perbincangan para awam, karakter dipahami sebagai tabiat. Sedangkan di jagad kepakaran psikologi, karakter dimengerti sebagai sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Istilah karakter sendiri, di kalangan para pendidik maupun peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, tentunya bukanlah sebuah term yang asing lagi. Istilah karakter dekat dengan wacana pendidikan karakter dan juga pembentukkan karakter. Term ini lantas menjamur dalam berbagai peta konsep, cetak biru, visi misi, hingga slogan-slogan institusi yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Tidak terkecuali, perguruan tinggi dengan segenap program kerjanya – baik yang bersifat akademis maupun non akademis – termasuk kegiatan pengenalan kehidupan kampus mahasiswa baru.
Niat Baik
Sebuah horor bernama pengenalan kehidupan kampus, bagi beberapa pihak dianggap masih cukup dekat dengan perpeloncoan, kendati sejatinya kegiatan tersebut diadakan untuk menunaikan niat dan tujuan baik yang salah satunya adalah pembentukan karakter mahasiswa baru dalam koridor isu masa transisi dari pendidikan tingkat atas ke pendidikan tingkat tinggi dengan segala dinamika serta multi problematikanya. Maklum, sebab dari lembar gelap sejarah terkabar bahwa kegitan-kegiatan semacam itu beberapa kali pernah memakan korban jiwa. Namun, berbekal semangat jiwa muda yang selalu haus terhadap otokritik, angkatan muda di pendidikan tinggi saat ini telah sampai pada tahap penyelenggaraan kegiatan pengenalan kehidupan kampus dengan aturan main yang jauh lebih aman.
Tidak ada lagi keluhan mengenai kekerasan fisik yang berlebihan. Jam dan durasi penyelenggaraan pun ditertibkan. Lokasi penyelenggaraan berada di dalam area kampus atau luar kampus yang masih dianggap dekat dengan kampus. Mayoritas kegiatan dilaksanakan di dalam ruangan atau di luar ruangan dengan kondisi yang teduh. Para peserta pun memiliki hak untuk beristirahat, makan, minum, serta melaksanakan ibadah di sela-sela acara. Pengenalan kehidupan kampus saat ini, tidak jarang diisi dengan kuliah umum, training motivasi, pemberian materi seputar dunia perkuliahan, ice breaking game, dan lain sebagainya.
Kendati demikian, kekerasan mental masih menjadi momok dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus yang terwujud dalam ritual bentak membentak, bullying, dan relasi yang tidak setara antara senior dengan junior. Di sisi lain, umumnya merebak kabar burung mengenai kewajiban mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus karena akan berpengaruh pada aspek akademis mahasiswa secara langsung. Akumulasi dari semua itu adalah munculnya motif mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus karena rasa takut. Idealnya, motif yang seharusnya mendorong para mahasiswa baru untuk mengikuti kegiatan pengenalan kehidupan kampus adalah sebuah kesadaran serta urgensi yang seharusnya mampu disosialisasikan oleh pihak penyelenggara.
Entah mengapa, wujud dari hasil pembentukan karakter yang diusung sebagai salah satu tujuan dari kegiatan pengenalan kehidupan kampus masih sukar untuk diraba secara utuh. Di hari terakhir seusai acara, para mahasiswa baru yang telah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut bersorak ria seolah telah terbebas dari suatu hal yang dengan terpaksa mereka kerjakan. Para mahasiswa baru tersebut menjalani keseharian mereka kembali, entah dengan atau tanpa karakter baru dan entah sesuai atau tidak dengan rujukan yang disusun oleh para perancang kegiatan. Selain itu, juga masih cukup sulit untuk menemukan preseden pendekatan yang dapat dipakai untuk mengukur tingkat keberhasilan dari pembentukan karakter yang diidealkan tersebut.
Gagal
Pada akhirnya - rangkaian acara sepekan yang diisi dengan nyaringnya yel-yel berbau primordial fakultas atau jurusan; kebanggaan yang dipromosikan lewat kaos-kaos, jaket-jaket, pin, stiker, dan sebagainya; serta tugas-tugas kelompok yang harus diselesaikan dalam tempo satu malam dengan sesama mahasiswa baru yang bisa saja mengikuti rangkaian acara tersebut tanpa motif apa pun, terkecuali hanya sekedar “takut dimarahi” - dalam ingatan kebanyakan mahasiswa tingkat akhir atau pun para alumni, kegiatan pengenalan kehidupan kampus yang dulu pernah mereka ikuti berakhir di sebuah obrolan warung kopi sebagai cerita “lucu-lucuan” saat awal masuk kuliah dulu. Tidak ada yang cukup berkesan, jika bukan perkenalan demi perkenalan yang berujung pada istilah “dapat pacar”, sekedar sisa humor dari pengalaman memakai tas karung, kenangan yang tidak mengenakan saat dibentak-bentak oleh sang senior, atau bahkan sedikit simpul senyum karena pernah sekali atau banyak kali berhasil menjahili si junior. Jika demikian, di bagian manakah dari rangkaian acara pengenalan kehidupan kampus yang mampu menjawab tujuan yang digadang-gadang: pembentukan karakter?
Lantas?
Bicara tentang pembentukkan karakter, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses tersebut bisa saja datang dari kejadian dalam kurun waktu dua atau tiga hari. Namun, alangkah baiknya jika hal positif semacam itu diupayakan secara terus menerus dan berkelanjutan, dengan konsep yang rigid dan menyegarkan, dekat dengan realitas kehidupan kampus pada khususnya serta kekinian zaman secara umum. Lantas tidak hanya berharap banyak dari rangkaian acara tur sepekan di kampus baru yang didaulat mampu membentuk karakter para mahasiswa baru, tanpa adanya peninjauan ulang mengenai semua bentuk kegiatan pengenalan kehidupan kampus, tanpa penilikan jika disandingkan dengan kekinian, tanpa penakaran yang sesuai dengan setiap potensi diri peserta didik yang unik, dan tanpa keberanian untuk mendobrak apa pun itu yang tidak lagi memberikan solusi.
*opini ini ditulis untuk Jurnal PK2 Maba Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa UB 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar